Ngayogjazz 2009: Java Today with Jazz


Tadinya saya sanksi dengan musim yang tak bisa ditebak. Jadi niat saya untuk menyaksikan perhelatan Ngayogjazz yang digelar kali setahun (ini adalah tahun ketiga), hanya terpendam dalam angan. Sampai akhirnya aku diingatkan olehnya, kalau sabtu malam ada pertunjukan jazz di Pasar Seni Gabusan (PSG), Bantul. “Oke kita lihat saja nanti, cuaca sedang bersahabat atau tidak, minimal guyuran hujan tidak terlalu deras dan lama, “ ujarku setengah yakin.

Hari yang ditunggu pun tiba. Saat melintasi jalan ring road, awan belum hitam. Menjelang kampus seni, tiba-tiba gerimis kecil-kecil menyapa kami. Tanpa pikir panjang, kami pun lantas mencari tempat teduh: angkringan. Yah, tempat paling asyik buat berteduh emang di angkringan sambil ngeteh panas. Untung saja di sekitar PSG ada angkringan yang enak.

Di antara deretan mobil lawas keluaran tahun 1940-an, alunan musik jazz mengalun. Mulai dari saksephone, keyboard besahut-sahutan dengan gerimis yang tak melunturkan antusiasme penonton yang datang. Lagu slow yang dibawakan komunitas jazz Jogjakarta, David Manuhutu dan Kemayoran malah membuat penonton turut menggerakan tubuh pertanda menikmati.

Tak terasa sudah satu jam berada di Basiyo stage, kami –tentu juga penonton lain pun diarak menuju stage selanjutnya yakni condrolukito stage seraya diarak dengan kelompok hadrah aki-aki dan nini-nini. Setelah itu penonton disambut duo pembawa acara gayeng lusi laksita dan anang yang mengantar kami menyaksikan I Wayan Sadra dan Sonosini ensamble dari Bali, diteruskan oleh kelompok jazz asal Malaysia, Albert Yap & BassGroove 100. Tak lama kemudian. Philosophy (Bintang Indrianto, Arief Setyadi dan Gerry Herb).

Sayang, karena terbatasnya jam malam di kost, menghalangi saya menonton pertunjukan selanjutnya. Padahal, menurut leafleat yang saya bawa, penonton akan dibawa ke panggung selanjutnya yakni Kusbini Stage. Disitulah ‘ruh’ jazz –menurut saya- mulai kena, saat Kuaetnika, Dwiki Darmawan, Dewa Baudjana dan Tilung memberi suguhan berwarna. Belum lagi pamungkas acara digenapi oleh kelompok musisi jazz asal Austria, Harri Stojka & Claudius Jelinek dan srikandi jazz Syaharani.

Performa mereka begitu memukau, benar-benar kolaborasi yang membuat saya berdecak. Gabungan musik elitis dan kesenian tradisional. Saya yakin,kalau event seperti ini sering digelar, bukan tak mungkin musik jazz bisa sejajar populernya dengan genre musik lain. Dan bukan tak mungkin pula digemari oleh lapisan usia atau bahkan sering diputar di pusat-pusat keramaian.

Jujur, saya sendiri juga bukan penikmat musik jazz. Selain karena aroma liriknya yang tak membumi, syairnya pun tak jarang menggunakan bahasa inggris. Ditambah lagi istilah-istilah jazz yang sama sekali tak karib di telinga saya. Sebut saja, Blues, Ragtime, Swing, Bepop, Hardpop, Beat, Sinkopasi dan masih banyak lagi.

Ibaratnya, saya sedang memasuki fase baru, mengenal apa itu musik jazz. Wajar saja, sebab yang selama ini ada di mindset saya adalah musik jazz itu hanya milik dan dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu. Sebab, untuk nonton pertunjukkannya saja, tak jarang penonton merogoh kocek yang tak sedikit. Padahal, kalau menengok sekilas sejarahnya musik jazz sebagai musik klasiknya Amerika, telah menjadi melting pot dari berbagai tradisi musik.

Nah, kalau formulasi musik jazz membaur alias njajah desa seperti acara yang saya tonton, rasanya saya berpikir dua kali untuk tidak nonton. Sayang sekali bukan, kalau dilewatkan belum lagi tanpa dipungut tiket masuk a.k.a free :D.

Finally, ada banyak cara untuk memainkan musik jazz dan bagaimana para musisi memainkannya. Temasuk konsep jazz di desa yang diprakarsai seniman-seniman jogja bertajuk Ngayogjazz. Apalagi budaya masyarakat Bantul pun berakar pada kebudayaan Jawa (Mataram), dengan dinamikanya. Saya melihat begitu terbukanya otang-orang Bantul dengan nilai-nilai baru dan akrab dengan tradisi baru sebagai respon perkembangan zaman. Tak heran jika ada ungkapan: Bantul, Java today.

Semangat Diskusi Pertama Gender Institute: Dari Psikologi ke Seks


Setelah melalui proses panjang (perdebatan pembicara, tempat dan tentu saja gosip ria), akhirnya hari ini (Jumat 13/11/09) berlangsung juga diskusi perdana sekaligus soft launching “Gender Institute” di LPM EKSPRESI Student Centre. Diskusi yang tentu saja ‘bernafas’ gender ini dimeriahkan oleh dua pemateri hebat.

Materi pertama ialah Teori Psikologi Laki-laki dan perempuan yang disampaikan oleh Dosen UNY, Ibu Pratiwi. Tapi, karena daya datang telat jadi tidak bisa menghadiri sejak awal. Yang jelas poin penting yang dapat saya tangkap –dengan keterbatasan- dari diskusi itu ialah bagaimana sikap atau attitude manusia dipengaruhi oleh factor psikologis yang dominan muncul. Dari kajian psikologis, saya memandang bahwa laki-laki dan perempuan berbeda karena pada dasarnya mereka berbeda anatomis biologisnya. Selain itu, fakta juga menunjukkan bahwa biasanya anak-anak beridentifikasi secara dengan orangtua mereka yang sama jenisnya, dan identifikasi itu merupakan kekuatan penting dalam perkembangan gender.

Menginjak materi kedua bertajuk Pengantar Gender yang disusung oleh Mbak Pusvyta Sari, aktivis LKiS dan sudah seringkali memberikan pelatihan pada remaja-remaja. Materi kedua berjalan cukup interaktif karena peserta diminta berperan aktif dalam diskusi. Dimulai dari penggambaran pohon keluarga dan menganalisis contoh kasus dalam keluarga yang berkaitan dengan gender. Ternyata dari situ timbul banyak sekali masalah, mulai dari anggota keluarga perempuan dominan, perempuan tak berhak mengambil keputusan sampai pada konsep poligami.

Terkadang kita sering bias memaknai perbedaan antara gender dan seks, namun dari contoh-contoh yang dipaparkan oleh pembicara, peserta bisa memetakan perbedaan yang cukup signifikan. Ketika membicarakan segi biologis, anatomis dan jenis kelamin, maka itulah makna dari seks. Sementara jika bersinggungan dengan pelabelan dan konstruksi sosial yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan, maka disebut gender (maskulinitas dan feminitas).

Tidak disangka materi pengantar gender disambut antusias oleh para peserta, hal itu terbukti dengan meluncurnya banyak pertanyaan dan rasa penasaran mereka. Bahkan setelah sesi materi selesai masih ada yang secara personal berdiskusi dengan pembicara.

Last but not least, two thumbs up buat fungsionaris GI yang terdiri dari Ibu Presiden (Kartika Amalia) beserta para menterinya (Prima Sulistya, Dian D Anisa, Siti Munazillah) yang sudah repot-repot menyelenggarakan diskusi pra wacana itu. Ke depan, semoga bisa konsisten dan kontinyu untuk menggelar forum diskusi yang berisikan materi-materi beragam dan tentu saja sejalan dengan visi misi GI.

Geliat Student Center: Pers Mahasiswa Nir Ruang Publik


Pers mahasiswa nyaris selalu terlibat dalam denyut perjuangan bangsa sejak zaman kolonial Belanda hingga masa Reformasi 1998. Mengambil peran sebagai 'pers alternatif', pers mahasiswa membangun jaringan dan mengorganisir gerakan mahasiswa. Sejarah mencatat, pers mahasiswa dengan berani melakukan perlawanan-perlawanan. Saat rezim Orde Baru berhasil membuat pers umum takut akan ancaman diberangus, pers mahasiswa tampil menjadi corong perjuangan. Ia menyajikan berita-berita alternatif, kritis, jujur, lugas dan berani, tanpa takut ditutup. Dengan daya tawar tersebut, pers mahasiswa ditunggu oleh mereka yang bosan dijejali pemberitaan pers umum yang gagap dan penuh kehati-hatian.

Perlawanan kaum muda ini tak pernah surut meski harus menghadapi tekanan penguasa, juga di era Orde Baru. Pada tahun 1980-an, Amir Daulay dan teman-temannya di Universitas Nasional Jakarta mendirikan Politika dengan semangat perlawanan, karena pascaMalari 1974, hampir semua elemen gerakan mahasiswa tiarap. Pemerintah giat memberangus gerakan mahasiswa, terutama yang kritis terhadap kebijakannya. Kondisi makin parah dengan pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Aktivitas politik mahasiswa dimandulkan.

Melihat kenyataan di atas, muncul pertanyaan, mampukah media yang dihasilkan oleh pers mahasiswa tetap menjadi bacaan alternatif bagi pembacanya? Mampukah mereka bersaing dengan media umum yang mempunyai nilai lebih, baik dari pemberitaan, perwajahan serta finansial.

Pertanyaan demi pertanyaan tersebut hingga kini - bahkan sudah 10 tahun reformasi- belum tuntas terjawab, aktivitas mahasiswa khususnya aktivis persma perlahan mulai memasuki babak baru. Ya, sebuah bentuk represifitas dalam kemasan berbeda. Jika di era NKK/BKK pemerintah memberangus kreativitas mahasiswa secara otoriter, di era paskareformasi justru memilih strategi lain. Strategi Student Center (SC), nyaris di beberapa perguruan tinggi sudah dan sedang berencana menerapkan.
Secara fungsional, SC dimaksudkan untuk memusatkan segala aktivitas yang melibatkan mahasiswa. Oleh para mahasiswa, kehadiran SC dianggap mengubah suasana kampus menjadi tidak bergairah. Jika dalam kurun waktu tiga tahun lalu sekretariat mahasiswa tanpa simbol SC menjadi tempat unit-unit kegiatan mahasiswa, namun sekarang aktivitas mahasiswa termasuk pers mahasiswa mulai mengalami kemunduran.

Sejalan dengan maksud SC didirikan, konsekuensi yang mengiringya ialah tidak terdapat lagi ruang publik bagi mahasiswa. Filsuf Jerman kontemporer Jurgen Habermas mengatakan, suatu komunitas masyarakat sejatinya memiliki ruang publik, sarana untuk mengekspresikan pendapat dan aspirasi. Sebab, bangunan ruang publik bukan hanya sebuah bangunan bagi institusi negara.

Institusi negara dalam konteks ini ialah rektorat yang menjalankan roda manajemen perguruan tinggi. Sungguh kontradiktif, jika ekspresi mahasiswa difasilitasi melalui SC yang notebene menegasikan ruang publik atau ruang yang bisa diakses oleh masyarakat sekitar. Ruang eksklusif yang menjadikan aktivitas mahasiswa termasuk persma tak ubahnya ‘robot’ yang tak diberikan pilihan lain kecuali mengikuti rule of the game dari sang pemilik institusi.

Catatan lain mengenai metafora SC juga disajikan Pramoedya Ananta Toer dalam bab-bab awal Rumah Kaca (1988). Dirawikan bagaimana tokoh Pangemanan, tokoh antagonis dalam novel itu dengan ucapannya yang berbisa. “Bukankah sudah jelas. Pitung-pitung modern yang mengusik-usik kenyamanan Gubernemen - semua telah dan akan kutempatkan dalam rumah kaca yang kuletakkan dalam meja kerjaku. Segalanya menjadi jelas terlihat. Hindia Belanda tidak boleh berubah - harus dilestarikan.”

Jika kenyataannya seperti itu maka simpan saja setumpuk ‘Pekerjaan Rumah’ seperti yang disebutkan di atas. Mengenai eksistensi persma menjadi media alternatif yang kritis dan independen tampaknya masih jauh panggang dari api. Bagaimana bisa menuju kesana, jika medium para aktivitasnya dibelenggu melalui SC?. Impact-nya cukup jelas, mahasiswa hanya bisa diakses oleh sang pemilik institusi, bukan oleh masyarakat luas. Lantas seperti apa solusinya?

Gone With The Rain


Sembilan hari berlalu sudah di bulan ke sebelas ini. Panas dan penat, belum lagi debu dan asap kendaraan kerap dijumpai di setiap jalan. Rasanya bergelas-gelas es tak cukup membasahi kerongkongan yang kering. Saya mendambakan bulan ini menjadi bulan romantis seperti lagunya Guns n Roses bertajuk November Rain yang kerap saya putar di winamp.

Tak dinyana, setelah didera panas berkepanjangan, tepatnya hari ini, 9 November, akhirnya hujan menyapa tanah jogja selatan. Angin berhembus harum membawa wewangian tanah yang basah terguyur air hujan. Rasanya seperti menemukan setitik mata air di padang gersang. Sejuk pun perlahan mengalir di sekujur tubuh yang tadinya basah oleh keringat. Terima kasih atas anugrah hari ini, hujan bulan November akhirnya terjadi juga. Semoga hujan ini bisa membawa manfaat yang berlimpah bagi kita semua –tidak dijadikan sumber untuk mengeluh dan menghambat kegiatan.

Pun dengan panas yang tak melulu kita rutuki, meski sesekali terlontar keluhan tapi tak membuat kita berhenti melakukan sesuatu. Sebab kalau kita ingin melihat lebih dekat lagi, banyak sekali orang yang melakukan kegiatan rentan bersinggungan dengan panas. Semisal, tukang sapu jalanan, tukang siram pohon di jalan protocol, tukang parker, penjaja asongan di tiap perempatan, pengamen, sales, wartawan, dan masih banyak sekali. Bayangkan tiap hari mereka merasakan panas, bahkan mungkin saja hujan. Sementara kita, saya yakin sebagian besar dari kita kerja atau kuliah di ruangan ber-AC nan sejuk.

Semoga hujan hari ini, juga menular untuk esok sampai satu musim berlalu. Bulan November akan menjadi bulan yang indah karena berlalu bersama hujan. 

Pak Mahmud: Kepala Sekolah Nyambi Pemulung


Cuaca siang itu pada medio Juni lalu begitu terik, tampak wajah Pak Mahmud yang basah oleh keringat tengah serius memilah jenis sampah. Siapa sangka jika ia berprofesi sebagai kepala sekolah.

Dandanannya terkesan rapi dan tidak lusuh. Tawanya juga terdengar renyah dan riang Dibanding dua laki-laki teman kerjanya yang sibuk membersihkan botol-botol plastik bekas wadah air mineral di antara tumpukan sampah, dia nampak paling ‘bersih’. Sekilas tatapan, sosok laki-laki setengah baya itu lebih pas menjadi juragan, pedagang atau pengepul barang bekas, tetapi kenyataan dia adalah pemulung.

Mahmud yang ditemui di tempat pembuangan akhir sementara tepat di belakang rumahnya, saat itu mengenakan kaus oblong lengan panjang berwarna hitam dan celana selutut dengan warna senada. Dilengkapi pula oleh topi kupluk berwarna abu-abu. Di tengah kesibukan ia mempersilahkan saya menyambangi rumahnya. Kami pun masuk ke rumah berbentuk kotak dari bambu dan kayu lapis persis di dekat tumpukan sampah, "ladangnya" memulung. Yang membuat tertegun ialah, Mahmud ternyata seorang guru, bahkan tiga tahun terakhir menduduki jabatan Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Safinatul Husna di kawasan Pangadengan, Kalideres, Jakarta Barat.

Cinta Mengajar
Mahmud kecil ialah anak seorang nelayan dan penjaga tambak di bilangan Muara Angke, Jakarta Utara. Ketika memasuki usia remaja, ia sudah tertarik menjadi seorang guru. Keinginan itu dibarengi dengan masuknya ia di Pendidikan Guru Agama (setingkat sekolah menengah pertama). Mahmud bersama tujuh saudaranya hidup jauh dari berkecukupan, tak urung ia pun bersekolah seraya menggembala kerbau agar bisa membantu biaya sekolah. “Saat itu saya sudah senang sekali, bisa sekolah sekaligus membantu orangtua,” ujarnya menerawang.

Pada 1980, ia menyelesaikan sekolahnya di Madrasah Aliyah (MA). Keberuntungan pun menghampiri bapak kelahiran 17 Maret 1960 ini, ia didapuk menjadi guru. Karena tekun menjalankan pekerjaannya, tak lama kemudian ia diangkat menjadi guru tetap dan mengampu mata pelajaran Aqidah Ahlak, Fiqih, dan Bahasa Arab. Demi mengembangkan bidang ilmu lain, Mahmud tak ayal belajar otodidak untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, serta bekal melanjutkan ke Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI jurusan Matematika. “Saya nggak mengejar soal materi, tapi kecintaan saya pada anak-anak,” tambah Mahmud yang mengajar selama 30 tahun ini.

Yayasan yang mengelola sekolah tempat Mahmud mengajar terbilang lumayan besar dan membawahi sekolah MTs setingkat SMP dan madarasah ibtidaiyah (MI) setingkat SD. Untuk Madrasah Tsanawiyah MTs saja memiliki ratusan siswa dengan 17 guru dan seorang staf.Kendati memimpin sekolah yang terbilang besar dan sudah menjadi guru sejak 1979, kehidupan keluarga tiga anak ini jauh dari layak. "Orang kadang-kadang tidak percaya, penghasilan saya tidak bisa mencukupi," ujar Mahmud.

Bapak asal Jakarta ini mengajar tidak tanggung-tanggung sampai enam mata pelajaran karena tenaga pengajar susah sekali dicari. Mayoritas mereka berpikir ulang untuk mengajar karena masalah penghasilan. “Meski menjadi kepala sekolah, saya tetap mengajar, tapi porsinya berkurang dan jika ada guru yang tidak masuk,” ujarnya.
Kalau sudah berhadapan dengan anak-anak, lanjut Mahmud, rasanya lega sekali. Banyak sekali kesan yang membekas di benaknya. Yang membuatnya prihatin dan tak tega selama mengabdi ialah acapkali tahun ajaran baru, banyak orangtua yang mengeluh lantaran harus membayar biaya sekolah. “Mendengar mereka menangis, rasanya jadi dilema. Kalau anak tak membayar sekolah, bagaimana dengan guru-guru yang mengajar, darimana mereka mendapat penghasilan,” tutur suami dari Ibu Jumiyati ini.

Kini, ia tengah memasuki masa pensiun tapi tetap ingin mengabdi dalam bidang pendidikan. Bentuknya dengan membuka semacam tempat belajar bagi anak-anak di rumah. “Mengajar di pendidikan formal kan ada batasnya, tapi di luar itu kita tetap bisa mengabdi,” ujarnya antusias.

Memulung Karena Kondisi
Berpijak dari penghasilan sekecil itu, akhirnya Mahmud mencari penghasilan tambahan. Apalagi tahun 2000, lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat mulai padat. Semakin bertambahnya warga, otomatis timbunan sampah juga menggunung. Lantaran itulah timbul inisiatif Mahmud untuk mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pemulung.

Ia memulung sampah-sampah yang masih bernilai ekonomi, seperti lembaran plastik, botol plastik minuman mineral, kertas dan kaleng dari tempat pembuangan sampah sementara. Pagi sampai siang, pukul 06.30 hingga pukul 14.00, dia mengajar mata pelajaran mulai dari Agama, Matematika, Biologi, hingga Fisika dan mengorganisasi guru-guru beserta stafnya. Sedangkan sore hingga malam dia memulung.

Diakui oleh Mahmud, alasanya memulung lantaran dipicu oleh kebutuhan rumah tangga yang mulai merangkak naik ketika anak-anak masuk sekolah. Awalnya berbagai usaha telah dilakoninya, mulai dari beternak, berkebun sampai sekarang ini memulung. “Jujur, awalnya saya tidak tertarik, karena aroma yang ditimbulkan dari sampah membuat saya pusing bahkan tidak bisa makan. Tapi, karena didorong rasa penasaran saya akhirnya mulai memulung,” ujar bapak yang memiliki motto “hidup harus bermanfaat bagi orang lain” ini.

Sebenarnya, lanjut Mahmud, bicara soal cukup atau tidak sifatnya relatif. Tetapi, ia merasakan sekarang ini hampir semua kebutuhan meningkat, bahkan air bersih saja sekarang harus beli, karena air sungai sudah tercemar limbah rumah tangga dan pabrik. Jika hanya mengandalkan penghasilan dari sekolah, semua pengeluaran tidak bisa tertutupi. “Saya percaya Tuhan sudah memberikan rezeki masing-masing bagi umat-Nya, kita tinggal berusaha untuk bekerja lebih keras,” harapnya optimis.

Tak Resah dengan Citra Pemulung
Mahmud tak lupa bercerita perihal pengalamannya pertama kali bersentuhan menjadi pemulung. Banyak pro dan kontra yang ditujukan padanya.Tapi yang paling membuatnya miris ia dituduh mencemarkan citra guru. “Apakah salah jika seorang guru berusaha sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi pekerjaan saya halal dan tidak merugikan orang lain. Saya menyadari jika profesi guru dan pekerjaan pemulung memang sangat kontras,” selorohnya prihatin.

Selama ini, tambah Mahmud, citra pemulung di mata masyarakat memang kurang baik. Tidak sedikit ditemukan pemulung yang bertindak merugikan, misalnya mencuri sendal atau barang lain. “Meski begitu, saya tidak merasa tersinggung sedikit pun, yang penting apa yang saya lakukan tidak merugikan dan menyusahkan orang lain,” ujar bapak dua putri dan satu putra ini. Menyikapi anggapan mereka, Mahmud hanya mengatakan “ya itu hak mereka, tokh pada akhirnya secara tidak langsung pekerjaan memulung juga sedikit banyak punya manfaat, khususnya untuk mengurangi sampah di sekitar tempat tinggal mereka”.

Belajar Menjadi Asertif

Tahu gak? dalam pergaulan dengan kawan, saudara dan orang-orang di sekitar kita, seringkali ada hal-hal yang mengganjal di hati, tetapi kita merasa tidak enak, sungkan atau rikuh kalau harus mengutarakan langsung perasaan kita yang sebenarnya kepada mereka. Nah, jika kita dihadapkan pada kondisi seperti ini kita perlu punya sikap yang disebut ’asertif’.

Apa seh asertif itu....tingkah laku dalam berinteraksi dengan orang lain secara terbuka, jujur penuh pertimbangan, percaya diri dan tegas. Nggak hanya menyangkut ekspresi pikiran dan perasaan yang positif saja, tetapi juga untuk hal yang negatif.

Guys...dalam berinteraksi dengan orang lain kita kan sering tuh mengutarakan pendapat dan keinginan masing-masing, contohlah ketika kita sedang diskusi. Terkadang kita setuju dengan pendapat tersebut, tetapi tidak jarang kita beda pendapat dengan mereka. Terus kalau ekspresi positif ketika kita setuju dengan pendapat orang lain dan mengutarakan hal itu. Termasuk memenuhi undangan atau ajakan-ajakan teman. Kalau ekspresi negatif ya sebaliknya seperti ungkapan bahwa kita tidak sependapat dengan orang lain atau menolak usulan mereka.
Nah, kalau suatu saat kita merasa terganggu, marah atau perasaan lain yang tidak menyenangkan dan kemudian kita mengutarakan perasaan itu disebut ekspresi negaif. So sebenarnya kemarahan bukan agresifitas kok, melainkan salah satu cara menanggapi situasi asal tahu batas-batasnya.

Oiya emang kenapa seh kok kita mesti berlaku asertif...tentu saja agar kita tetap bisa memeroleh dan mempertahankan hak kita tanpa merugikan orang lain.
Eits biar pencerita yang baca gak bingung ada lho bedanya asertif dengan pasif dan agresif. Tingah laku pasif mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, pengennya seh menghindari konflik. Biasanya sikap kaya gini muncul karena kurang PD dan takut akan penilaian orang lain. Padahal sikap kaya gini sebenarnya justru gak menyelesaikan masalah karena masalah kita sendiri gak terpecahkan.

Trus kalau agresif tingkah laku yang bertujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain. Biasanya dengan cara memaksakan kehendak kepada orang lain atau bahkan menyerang dengan kata-kata.

Yah gak usah jauh-jauh lah contohnya, misalnya kita punya sebuah usul. Namanya juga usul, sekalipun kita berharap bakal disetujui semua orang tetapi bisa saja tidak disetujui kan? Nah, ternyata usul kita nggak disetujui sama orang lain, tetapi kita tetap saja ngotot agar usul kita diterima. Bahkan terkadang untuk mempertahankan usul tersebut kita tega memaki orang lain yang nggak sependapat dengan kita. Belum lagi kalau kita sering bekerja dengan kawan-kawan dalam satu kepanitiaan. Biasanya dalam tim itu sudah ada pembagian kerja sendiri-sendiri. Suatu saat kita nggak yakin dengan kerja seorang kawan dan ngerasa mampu mengerjakan tugs itu, lantas kita menyerobot tugas itu. Kan bisa kalau kita menawarkan bantuan atau coba mengusulkan sesuatu.

Penting gak seh kalau kita bersikap asertif.. yang jelas agar kita terhindar dari kerugian yang mungkin kita derita dan tentu saja juga jangan sampai merugikan pihak lain. Kita mulai saja dari keberanian berkata tidak, sering kali kita kesulitan kan untuk mengatakan tidak kepada orang lain.

Mmm apa lagi yah...khawatir ya kalau kita asertif timbul masalah. Orang lain mungkin akan melihat kita sebagai kawan yang sulit. Duh bisa-bisa kehilangan kawan dong hiks-hiks. Don’t worry, kawan. Selama ini tingkah laku asertif memang belum begitu membudaya di lingkungan kita. Jadi wajar kalau orang yang asertif justru dianggap tidak biasa. Tetapi sebenarnya dengan tingkah laku asertif kita punya banyak keuntungan. Jelas kita bisa menjadi diri sendiri tidak terbawa arus di sekitar kita. Berarti kita punya konsep diri kan?

Sudah cukup ya..sampai jumpa pada psiko area selanjutnya.

9 Cara Pertahankan Energi Positif

KOMPAS.com - Suasana kantor yang muram dan rekan kerja yang doyan berkeluh kesah bisa menyerap energi positif yang Anda miliki dan bikin mood kerja berantakan. Jangan khawatir, Judit Orloff, penulis buku Emotional Freedom: Liberate Yourself from Negative Emotions and Transforms Your Life mengatakan, cara untuk mengatasi serangan "vampir" yang mengisap energi positif dari Anda bisa dengan:

1. Kabur!

Punya rekan kerja yang hobi menghasut dan main lempar kesalahan? Singkirkan diri Anda sejauh mungkin dari mereka. Ini cara termudah untuk mengatasi situasi negatif yang menghadang di depan mata. Jika Anda terjebak di dalam percakapan bernada negatif, segera tariklah diri Anda keluar dari lingkaran tersebut. Tidak dapat beranjak pergi? Bayangkan saja di dalam pikiran bahwa Anda sedang memutuskan tali hubungan energi antara diri Anda dengan orang tersebut.

2. Belokkan Arah

Jika Anda menyadari perbincangan berkembang ke arah tertentu yang agak mengganggu, carilah peluang untuk membelokkan arah perbincangan.Tidak jadi soal topik apa yang Anda jadikan bahan pembicaraan. Yang penting, tema tersebut bisa membuat semua orang berpaling dan melupakan topik sebelumnya. Misal, sah-sah saja kok, ngobrol tentang anjing peliharaan Anda untuk meredakan gosip tentang perselingkuhan atasan yang belum tentu benar.

3. Pikirkan Hal-Hal Positif

Tak berhasil membelokkan arah pembicaraan? Apa boleh buat, alihkan saja perhatian Anda pada hal-hal lain yang sifatnya positif. Misal, lamaran si dia atau kelahiran keponakan pertama Anda. Fokuskan pada peristiwa bahagia dan buatlah memori itu sebagai bahan bakar untuk membangun suasana hati positif. Menutup mata atau sekadar mengedipkan mata dalam hitungan detik juga mampu membantu menenangkan hati dan menjauhkan pikiran buruk. Masih belum berhasil? Tenangkan diri dengan berkonsentrasi pada arus keluar masuk udara pernapasan Anda.

4. Jangan Merespons

Tahan diri untuk merespons perkataan atau tindakan negatif apabila Anda sedang merasa tidak tenang. Tarik napas panjang untuk menenangkan diri. Sampaikan kalimat Anda dalam nada rendah untuk mengurangi intensitas suasana. Kala menerima kritik dari siapa pun, berfokuslah pada konten pembicaraan dan bukan pada cara penyampaiannya. Belajarlah mengabaikan kata-kata negatif yang tidak memberi makna pada pembicaraan Anda dengan seseorang.

5. Berhenti Menilai

Jika tak bisa berhenti memendam kekesalan pada orang lain yang selalu bersikap negatif, maka sudah saatnya Anda menghentikan aktivitas untuk menarik napas panjang. Jika diteruskan "sejengkal" lagi, Anda bisa menjelma menjadi si penebar aura negatif yang justru Anda benci. Berhentilah berusaha membuat orang lain mengubah pikirannya. Yang lebih penting dilakukan, bagaimana caranya supaya Anda tidak terseret masuk ke dalam pusaran energi negatif tersebut.

6. Temukan Hal Positif Pada Diri Orang Lain

Terjebak dalam sebuah proyek bersama rekan kerja yang hobi mengeluh? Jangan pusing karena hanya akan menambah beban pikiran Anda. Lebih baik, galilah hal-hal positif tentang dia dan fokuskan perhatian Anda pada poin tersebut. Misal, biar suka mengeluh, dia sebenarnya punya solidaritas tinggi terhadap teman. Atau, biar jarang tersenyum, dia sebenarnya punya selera berpakaian yang baik. Mungkin kapan-kapan Anda bisa minta ditemani belanja baju olehnya.

7. Tata Meja Kerja

Kelilingi diri Anda dengan benda-benda yang mampu membuat perasaan Anda lebih baik. Misalnya, foto ketika Anda sedang berlibur berdua kekasih, bantal lembut berbentuk hati, serta screensaver komputer berisi gambar-gambar cute atau kata-kata mutiara yang inspiratif. Boleh juga memasang gambar destinasi liburan yang ingin Anda kunjungi dengan uang tabungan nanti. Pokoknya, letakkan apa saja yang mampu memperbaiki mood Anda kembali saat melihatnya.

8. Cari Orang Beraura Positif

Di dunia ini selalu ada keseimbangan. Jika ada orang yang hobi menebar hawa negatif, pasti ada pula mereka yang memancarkan energi positif. Carilah orang tersebut dan habiskan waktu lebih banyak dengannya. Anda berdua bisa saling membantu dalam menghadapi lingkungan kerja yang tidak kondusif. Jika sudah merasa lebih baik, bangunlah antusiasme dengan banyak-banyak tertawa dan memfokuskan diri pada energi positif yang Anda miliki.

9. Perhatikan Sinyal

Terkadang, energi negatif yang Anda rasakan datang dari lingkungan merupakan pertanda bahwa sudah waktunya Anda "move on" dan mencari tempat yang lain. Jika segala upaya sudah Anda lakukan namun tak menunjukkan hasil yang menggembirakan, tak ada salahnya mempertimbangkan untuk mencari peluang baru di tempat yang lebih sreg di hati Anda. Siapa tahu in memang cara alam untuk menyampaikan sarannya untuk Anda.